Langit Indonesia sering hitam di bulan-bulan berakhiran “ber”. Ketika
begitu, mendung kadang dibenci, kadang dinanti. Selalu ada dua pandangan kontra
dalam merespons gejala alam. Sesuai kepentingan.
Anda yang baru saja menjemur pakaian sangat berharap agar
hujan turun setelah pakaian kering. Sementara di saat
bersamaan, orang yang sedang dalam perjalanan menginginkan hujan turun 5 menit kemudian, begitu ia sampai di rumah.
“Semoga mendung
semoga mendung..” seseorang memelas ketika ia tak tahan dengan sengatan mentari. “Jangan mendung dulu jangan
mendung dulu..” seseorang berteriak dalam hatinya ketika padinya belum
benar-benar kering dijemur.
Di sebuah pulau,
fotografer berwajah murung karena mendung. Di sebuah rumah baru yang dihuni
pengantin baru, ada kerinduan menikmati berbulan madu saat tetes hujan
mendendangkan bunyinya di atap rumah.
Kalau sudah
begitu, lihatlah suatu keadaan dari luar kotak. Maksud saya, tidak hanya
berpikir untuk kepentingan pribadi. Tapi juga membayangkan orang lain di tempat
berbeda.
Nikmati saja
mendung. Rumusnya cuma satu: pahami pepatah “sedia payung sebelum hujan”. So,
mendung pun tidak berarti akan turun hujan. Tuhanlah Yang Maha Tahu.[]
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar