Mendung

Diposting oleh Unknown on Rabu, 06 November 2013

Langit Indonesia sering hitam di bulan-bulan berakhiran “ber”. Ketika begitu, mendung kadang dibenci, kadang dinanti. Selalu ada dua pandangan kontra dalam merespons gejala alam. Sesuai kepentingan.
Anda yang baru saja menjemur pakaian sangat berharap agar hujan turun setelah pakaian kering. Sementara di saat bersamaan, orang yang sedang dalam perjalanan menginginkan hujan turun 5 menit kemudian, begitu ia sampai di rumah.
“Semoga mendung semoga mendung..” seseorang memelas ketika ia tak tahan dengan  sengatan mentari. “Jangan mendung dulu jangan mendung dulu..” seseorang berteriak dalam hatinya ketika padinya belum benar-benar kering dijemur.
Di sebuah pulau, fotografer berwajah murung karena mendung. Di sebuah rumah baru yang dihuni pengantin baru, ada kerinduan menikmati berbulan madu saat tetes hujan mendendangkan bunyinya di atap rumah.
Kalau sudah begitu, lihatlah suatu keadaan dari luar kotak. Maksud saya, tidak hanya berpikir untuk kepentingan pribadi. Tapi juga membayangkan orang lain di tempat berbeda.
Nikmati saja mendung. Rumusnya cuma satu: pahami pepatah “sedia payung sebelum hujan”. So, mendung pun tidak berarti akan turun hujan. Tuhanlah Yang Maha Tahu.[]

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar